7/12/2018

THR, Cara Menghitung THR Karyawan sesuai Permenaker No 6 Tahun 2016

thr

Pengertian THR adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan.



Sesuai Pasal 1 Permenaker No 6 Tahun 2016, hari raya keagamaan adalah :
  1. Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam
  2. Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Katholik dan Protestan
  3. Hari Raya Nyepi bagi pekerja yang beragama Hindu
  4. Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha
  5. Hari Raya Imlek bagi pekerja yang beragama Konghucu

Besaran THR 

Sesuai Pasal 2,3,4 Permenaker No 6 Tahun 2016, ketentuan Besaran THR yaitu :
  • Perusahaan akan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Pekerja sebesar 1 (satu) bulan upah bagi pekerja yang telah memiliki masa kerja 12 bulan berturut-turut atau lebih
  • Komponen upah 1 (satu) bulan adalah upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih atau upah pokok termasuk tunjangan tetap
  • Bagi Pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan tetapi lebih dari 1 bulan, maka THR diberikan secara proporsional dengan perhitungan THR karyawan kurang dari 1 tahun yaitu :
Masa Kerja (Bulan) x Gaji Pokok
              12
  • Jika nilai besaran THR sesuai Perjanjian Kerja, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perusahaan (PP) lebih besar dari 1 (satu) bulan upah, maka THR yang dibayarkan kepada pekerja adalah besaran THR yang sesuai Perjanjian Kerja, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perusahaan (PP).

Pembayaran THR

Sesuai Pasal 5 dan 7 Permenaker No 6 Tahun 2016, ketentuan Pembayaran THR yaitu :
  • THR diberikan 1 kali dalam 1 tahun sesuai dengan hari raya keagaaman pekerja masing-masing
  • Apabila terjadi hari raya keagaaman lebih dari 1 kali dalam 1 tahun, maka THR diberikan sesuai dengan pelaksanaan hari raya keagaaman
  • THR dibayarkan sesuai hari raya keagaaman pekerja masing-masing, kecuali ditentukan lain berdasarkan kesepakatan pengusaha dan pekerja yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perusahaan (PP)
  • Pembayaran THR dilakukan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum hari raya keagamaan
  • Bagi Pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 30 (tiga puluh) hari sebelum jatuhnya hari raya keagamaan, maka Perusahaan tetap memberikan THR. Hal tersebut tidak berlaku bagi Pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)

Kalkulator THR

Dibawah ini ada Kalkulator THR yang bisa menjadi pedoman untuk menghitung Tunjangan Hari Raya :

Autosum

Kalkulator THR

Upah Pokok + Tunj Tetap :

Masa Kerja (Bulan):


Jumlah THR :


Read more

6/27/2018

Cara Menghitung Lembur sesuai UU No 13 Tahun 2003

cara menghitung lembur

Lembur kerja adalah waktu dimana Pekerja melakukan pekerjaan diluar jam dan atau hari kerja yang telah ditentukan dan mendapatkan persetujuan Pekerja yang bersangkutan dan mekanismenya diatur bersama.



Sesuai Pasal 77 UU No 13 Tahun 2003, ketentuan waktu kerja yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu :
  • 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu
  • 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu
  • Ketentuan waktu kerja diatas tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu yang diatur dengan Keputusan Menteri tersendiri


Sesuai Pasal 78 UU No 13 Tahun 2003, ketentuan lembur yang ditetapkan pemerintah yaitu :
  • Pengusaha yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja harus ada persetujuan pekerja yang bersangkutan 
  • Maksimal waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu
  • Pengusaha yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja wajib membayar upah kerja lembur
  • Ketentuan lembur diatas tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu 
  • Ketentuan mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur diatur dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 102/Men/VI/2004


Sesuai Pasal 85 UU No 13 Tahun 2003, ketentuan perhitungan lembur hari libur nasional yaitu :
  • Pekerja tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi
  • Pengusaha dapat mempekerjakan pekerja untuk bekerja pada hari-hari libur resmi apabila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja dengan pengusaha
  • Pengusaha yang mempekerjakan pekerja yang melakukan pekerjaan pada hari libur resmi wajib membayar upah kerja lembur sesuai perhitungan yang diatur dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 102/Men/VI/2004


Rumus Perhitungan Lembur


  1. Perhitungan upah lembur diatur dengan berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 102/Men/VI/2004 Tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur

  2. Tarif Upah Lembur (TUL) per jam ditetapkan berdasarkan perhitungan :

  3. TUL = Gaji Pokok / 173

  4. Perhitungan upah lembur untuk tiap jam ditetapkan sebagai berikut :

  5. Jam Kerja Lembur
    Hari Kerja Biasa
    Hari Libur
    Jam ke 1
    1.5 x TUL
    2 x TUL
    Jam ke 2 s/d 8
    2 x TUL
    2 x TUL
    Jam ke 9
    2 x TUL
    3 x TUL
    Jam ke 10 dan seterusnya
    2 x TUL
    4 x TUL


Bagi sebagian perusahaan, perhitungan untuk upah lembur diatas hanya berlaku untuk level operator & staff. Sedangkan bagi pekerja yang mempunyai jabatan supervisor ke atas , perhitungan upah lembur diatur sesuai kepmenakertrans no 102 tahun 2004 pasal 4 ayat 2 dan 3 dan Surat Keputusan Direksi Perusahaan tersebut.


Cara Menghitung Lembur Karyawan dengan Excel


Dibawah ini ada Cara Menghitung Lembur Karyawan dalam format Excel yang bisa menjadi pedoman untuk menghitung lembur karyawan :

Read more

6/18/2018

Coaching and Counseling untuk membangun Teamwork yang Excellent di Tempat Kerja

coaching and counseling

Coaching and Counseling merupakan suatu metode yang digunakan oleh pemimpin di suatu organisasi perusahaan untuk mencari pemecahan suatu masalah yang dihadapi oleh karyawan dibawahnya. Coaching and Counseling ibarat sebagai pondasi dalam pendelegasian tugas ke bawahan secara efektif agar sasaran organisasi perusahaan bisa tercapai.



Tujuan Coaching and Counseling


Coaching adalah metode untuk mengatasi masalah kinerja karyawan karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan karyawan tersebut, perlu diingat coaching berbeda dengan teaching. Sedangkan counseling adalah metode untuk mengatasi masalah pribadi karyawan yang menggangu kinerjanya. Coaching menyentuh kepribadian dan sesuatu yang nampak di permukaan, sedangkan counseling untuk karakter di dalam jiwa. 

Adapun beberapa tujuan coaching and counseling yaitu :

  1. Memastikan karyawan bekerja dalam jalur yang tepat
  2. Membuat karyawan dapat menampilkan kinerja optimal



Metode Coaching and Counseling


Ada 5 metode atau tahapan yang dilakukan dalam melakukan coaching and counseling yaitu :
  1. Develop Relationship (Membangun Hubungan)
  2. Define Problem (Menguraikan Masalah)
  3. Determine Goals (Menentukan Tujuan)
  4. Decide Plan of Actions (Menentukan Rencana Tindakan)
  5. Do Follow – Up  (Melakukan Tindak Lanjut)



Materi Coaching and Counseling ppt


Dibawah ini ada Materi Training tentang Coaching and Counseling dalam format Powerpoint yang bisa menjadi pedoman untuk melaksanakan Coaching and Counseling :


Read more

6/08/2018

GMP menuju Industri Makanan Kelas Dunia

gmp adalah
GMP adalah singkatan dari Good Manufacturing Practice atau Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB). Tujuan GMP adalah Identifikasi prinsip dasar higiene pangan yang dapat diaplikasikan diseluruh rantai penyediaan pangan untuk mencapai tujuan kepastian bahwa pangan yang dihasilkan aman dan pantas untuk dikonsumsi manusia, serta memastikan konsumen jelas dan mengerti informasi tentang pangan saat penyimpanan, penanganan dan persiapan makanan.

Ruang Lingkup GMP


Ruang Lingkup GMP (Good Manufacturing Practice) meliputi Rantai Penyediaan Pangan mulai produksi primer sampai konsumen akhir, dibawah ini akan dijelaskan secara detail 8 Ruang Lingkup GMP. 

1. Produksi Primer

Produksi Primer Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :

  • Higiene Lingkungan yaitu Sumber potensial kontaminasi berasal dari lingkungan
  • Produksi Higienis Dari Bahan Baku yaitu Kontrol kontaminasi dari air, tanah, pestisida atau bahan lain yang digunakan
  • Penanganan, Penyimpanan dan Transportasi yaitu Pemilahan produk dan tambahan yan mengandung bahan tidak aman, Penangan material reject, Penyimpanan dan pengiriman ke konsumen.
  • Kebersihan, Pemeliharaan dan Higiene Perorangan yaitu Kebersihan dan pemeliharaan dilakukan dengan efektif

2. Bangunan, Desain dan Fasilitas

Bangunan, Desain dan Fasilitas Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Lokasi yaitu Peralatan harus selalu dipelihara dan dijaga kebersihannya, peralatan harus sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, Monitoring peralatan
  • Tempat dan Ruangan, yaitu desain dan tata letak harus sesuai & bebas kontaminasi silang
  • Peralatan yaitu didesain & dipastikan dapat menghindari kontaminasi, terbuat dari bahan bebas toksin, dapat dibongkar pasang saat pemeliharaan / pembersihan, peralatan pemantauan & Pengontrolan Pangan, tempat untuk Limbah dan Bahan yang Tidak Dapat Dimakan.
  • Fasilitas yaitu Suplai Air, Saluran dan Pembuangan Limbah, Pembersihan, Toilet dan Fasilitas Higiene Perorangan, Kontrol Temperatur, Ventilasi dan Kualitas Udara, Penerangan, dan Penyimpanan


3. Kontrol Operasi

Kontrol Operasi Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Kontrol Bahaya Pangan (CCP) yang merupakan bagian dari HACCP
  • Aspek Kunci Dari Sistem Kontrol Higiene yaitu Kontrol Waktu Dan Temperatur, Tahapan Proses Khusus seperti Chiller dan Iradiasi,Spesifikasi Mikrobiologi Dan Lainnya, Kontaminasi Silang Mikrobiologi, Kontaminasi Fisik Dan Kimia
  • Persyaratan Bahan Baku
  • Bahan Pengemas
  • Air
  • Manajemen & Supervisi
  • Dokumentasi Dan Pencatatan (‘Records’)
  • Prosedur “Recall”


4. Pemeliharaan dan Sanitasi

  • Pemeliharaan dan sanitasi Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Maintenance Dan Cleaning yaitu Maintenance Dan Peralatan Harus Dijaga Dan Dirawat, serta Bahan Kimia Pembantu Harus Diidentifikasi
  • Prosedur Dan Metode Cleaning 
  • Cleaning Program yaitu Parameter Program seperti Area dan Jenis Peralatan Yang Akan Dibersihkan, Penanggung Jawab Langsung, Metode Dan Frekuensi, serta Cara Monitor
  • Pest Control System
  • Pengaturan Limbah
  • Monitoring Efektifitas


5. Personal Hygiene

Personal Hygiene Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Status kesehatan yaitu personal yang diketahui / dicurigai menderita sakit tidak boleh diproduksi
  • Sakit dan luka yaitu tidak boleh bekerja diarea produksi orang yang memiliki penyakit kuning, diare, muntah, pilek, luka pada kulit, gangguan THT
  • Kesehatan personal yaitu harus membasuh tangan saat memulai aktifitas diarea produksi, setelah dari kamar kecil, setelah menangani material/bahan yang dicurigai dapat mengkontaminasi
  • Perilaku personal yaitu kebiasaan merokok, meludah, makan, bersin, batuk dapat mengkontaminasi
  • Pengunjung/tamu yaitu harus memakai pakaian pelindung & mengikuti aturan personal higiene.


6. Transportasi

Transportasi Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Produk harus terlindungi selama transportasi yaitu jenis alat angkut disesuaikan dengan kondisi dan sifat produk selama dalam perjalanan
  • Persyaratan yaitu alat pengangkut dan bak kontainer harus tidak mengkontaminasi kemasan dan produk, mudah dibersihkan, dipisah antara produk pangan dan non-pangan, mencegah kontaminasi debu dan jamur, memeriksa dan mengontrol suhu, kelembaban dan kondisi lain untuk mencegah bahaya terhadap produk
  • Penggunaan dan pemeliharaan yaitu container harus selalu dijaga kebersihannya, harus didesain dan bertanda “hanya untuk makanan”


7. Informasi Produk & Kepedulian Konsumen

Informasi Produk & Kepedulian Konsumen Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Identifikasi No. LOT yaitu penting untuk penarikan produk dan rotasi stok
  • Informasi produk yang meliputi cara penanganan, pemajangan, menyimpan, cara penyiapan dan penyajian yang aman dan benar
  • Labelling
  • Consumer education


8. Pelatihan

Pelatihan Good Manufacturing Practice (GMP) meliputi :
  • Kepedulian dan tanggung jawab yaitu seluruh karyawan peduli dan sadar akan kebersihan dan kesehatan, melaksanakan pekerjaan harus didasari kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan
  • Program pelatihan yaitu pencanangan program pelatihan untuk menunjang pelaksanaan gmp dan meningkatkan kompetensi karyawan
Read more

6/02/2018

HACCP untuk Jaminan Keamanan Pangan Terbaik

HACCP adalah

HACCP adalah Hazard Analytical Critical Control Point yaitu sistem yang mengidentifikasi, evaluasi dan mengontrol bahaya yang nyata terhadap keamanan pangan yang biasa diterapkan dalam industri makanan. 


Tujuan HACCP


Pengertian HACCP yang didalamnya terdapat singkatan kata Hazard yang artinya adalah suatu bahaya bahan biologi, kimia atau fisika didalam pangan atau kondisi pangan yang berpotensi menyebabkan efek yang merugikan kesehatan. Kemudian ada kata Critical Control Point yang artinya adalah Kontrol Bahaya Pangan. HACCP merupakan bagian dari Sistem Good Manufacturing Practice (GMP) atau Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan merupakan bagian penting dari Food Safety Management System ISO 22000. 

Tujuan HACCP dalam industri makanan adalah mencegah terjadinya Hazard atau bahaya dari bahan biologi, kimia atau fisika yang mungkin terjadi sehingga memperkecil resiko bahaya terhadap keamanan pangan. Fungsi HACCP tidak dapat menghilangkan seluruh resiko bahaya terhadap keamanan pangan.


Prinsip HACCP


7 Prinsip HACCP atau Hazard Analytical Critical Control Point diantaranya adalah :

  1. Analisa Bahaya
  2. Menetapkan CCP (Critical Control Point) yang merupakan Titik Kendali Kritis
  3. Menentukan CL (Critical Limit) yang merupakan Batas Kritis
  4. Menentukan Pemantauan CCP (Critical Control Point)
  5. Tindakan Perbaikan 
  6. Verifikasi
  7. Dokumentasi



Analisa Bahaya

Harus dilaksanakan analisa bahaya untuk menetapkan bahaya mana yang butuh dikontrol, tingkat pengendalian yang diperlukan untuk memastikan keamanan pangan dan kombinasi tindakan pengendalian yang diperlukan 

Identifikasi bahaya dan penetapan tingkat penerimaan, yang terdiri dari :

1. Semua bahan yang sesuai dengan tipe produk, tipe proses dan fasilitas proses harus diidentifikasi dan dicatat. Identifikasi harus didasarkan pada :
  • Informasi awal dan data yang dikumpulkan (mulai RM-FG, distribusi, flow proses)
  • Pengalaman
  • Informasi eksternal
  • Informasi keamanan produk akhir, produk intermediate dan pangan saat dikonsumsi

2. Ketika identifikasi bahaya dilakukan, pertimbangan harus diberikan terhadap :
  • Tahapan khusus dalam operasional
  • Peralatan proses, utilitas/jasa dan lingkungan
  • Proses sebelum dan sesudahnya dalam jalur/rantai pangan

3. Untuk setiap bahaya pangan yanng diidentifikasi, tingkat penerimaan harus ditetapkan dalam produk akhir



Penilaian bahaya harus dilakukan untuk tiap bahaya pangan yang diidentifikasi, apakah untuk menghilangkan ataumengurangi sampai tingkat yang dapat diterima dan apakah pengendalian yang diperlukan untuk dapat mempertahankan pada tingkat dapat diterima. Tiap bahaya pangan harus dievaluasi sesuai dengan kemungkinan keparahan dampak kesehatan dan kemungkinan terjadinya.


HACCP Plan

HACCP Plan harus didokumentasikan dan berisikan informasi sebagai berikut untuk tiap Titik Kendali Kritis :

  • Bahaya pangan yang dikendalikan pada titik kritis
  • Tindakan pengendalian
  • Batas kritis
  • Prosedur pemantauan
  • Koreksi dan tidakan koreksi yang diambil apabila batas limit dilampaui
  • Tanggung jawab dan wewenang
  • Catatan pemantauan

Penetapan Batas Kritis untuk Titik Kendali Kritis

  • Harus ditetapkan untuk memastikan tingkat penerimaan dalam produk akhir tidak melebihi
  • Batas kritis harus terukur dan didokumentasikan
  • Didasarkan pada data, didukung instruksi, pendidikan/pelatihan


Kontrol Bahaya Pangan (CCP)

Aspek Kunci dari Sistem Kontrok Bahaya Pangan (CCP) adalah :

  • Kontrol Waktu dan Temperatur
  • Tahapan Proses Khusus seperti Chiller dan iradiasi
  • Spesifikasi mikrobiologi dan lainnya
  • Kontaminasi silang mikrobiologi
  • Kontaminasi Fisik dan Kimia

Read more

5/26/2018

ISO 9001 2015 - Perbedaan ISO 9001 versi 2008 dengan 2015

Pengertian ISO adalah nama generik untuk sistem manajemen mutu international yang dikeluarkan pertama kali pada tahun 1987 oleh Organisasi International Standarisasi (The International Organization for Standardization = ISO). Tujuan ISO adalah untuk mengembangkan dan mempromosikan standard-standard umum yang  berlaku secara international. 



ISO 9001 adalah standar sistem manajemen mutu yang dikeluarkan oleh organisasi international yang bernama Organization for Standardization, ISO 9001 bukan standar mutu produk, tetapi standar yang mengatur Sistem Manajemen Mutu yang artinya adalah bukan produk yang disertifikasi, tetapi Sistem Manajemen Mutu untuk menghasilkan produk tersebut yang disertifikasi. Contoh : Sebuah Perusahaan membuat kaleng, maka yang di atur adalah prosesnya, mulai dari penerimaan pesanan sampai kaleng tersebut dikirim ke pelanggan. Perusahaan yang menerapkan ISO 9001 dapat memperoleh sertifikat setelah diaudit oleh Badan Sertifikasi dan dinyatakan lulus dan berlaku selama 3 tahun, serta dilakukan surveillance audit setiap 6 bulan untuk memastikan penerapan ISO 9001 dilakukan dengan konsisten. Sebelum membahas apa itu ISO 9001 Tahun 2015, ada baiknya kita coba mengetahui ISO 9001 versi 2008 yaitu Standar dari Sistem Manajemen Mutu dengan tahun revisi dari Sistem Manajemen Mutu di tahun 2008 yang 8 klausul.

Klausul ISO 9001 Tahun 2015


ISO 9001 tahun 2015 adalah Standar terbaru dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 dengan tahun revisi dari Sistem Manajemen Mutu di tahun 2015 yang memiliki klausul 10 klausul, yaitu : 
  1. Ruang Lingkup
  2. Acuan Normatif
  3. Istilah dan Definisi
  4. Organisasi dan Konteksnya
  5. Kepemimpinan
  6. Perencanaan 
  7. Dukungan
  8. Operasi
  9. Evaluasi Kinerja
  10. Improvement



Perbedaan ISO 9001 versi 2008 dengan 2015


Ada 10 perbedaan yang ada antara ISO 9001 Tahun 2008 dengan ISO 9001 Tahun 2015, yaitu :

1. Klausul ISO 9001:2015 lebih terstruktur dan rapi
  • Mulai dari bab dan sub-bab, serta urutan klausul benar-benar terstruktur dan dikelompokkan dengan baik. Klausul yang dibuat rapi ini bertujuan memudahkan perusahaan untuk memasukkan komponen standar ISO lain yang dianggap relevan, seperti ISO 14001:2015, ISO 55001, dan ISO 45001. Tak hanya itu, jumlah klausul pada ISO 9001:2015 pun bertambah. ISO 9001:2008 memiliki 8 klausul sedangkan ISO 9001:2015 memiliki 10 klausul.

2. Manajemen risiko menjadi fondasi standar ISO 9001:2015 
  • Pada ISO 9001:2015 ini, istilah "preventive action" berubah menjadi "risk management". Seperti kita ketahui, target dari sistem manajemen adalah mencapai kesesuaian dan kepuasan pelanggan. Dalam mewujudkannya, ISO 9001:2015 fokus pada performa perusahaan dengan pendekatan pemikiran berbasis risiko (risk based thinking) dan konsep PDCA atau Plan-Do-Check-Action.
  • Pada ISO 9001:2015, risiko dianggap sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari sistem. Oleh karena itulah, dengan pendekatan pemikiran berbasis risiko, diharapkan perusahaan lebih proaktif dalam mencegah dan mengurangi efek yang tidak dikehendaki dan selalu memperbaiki sistem secara berkelanjutan (continual improvement). Ketika manajemen risiko diterapkan dengan serius, secara otomatis tindakan pencegahan pun akan dilakukan.

3. Leadership (Kepemimpinan) − Tidak Mewajibkan Keberadaan Management Representative 
  • Standar ini tidak mewajibkan keberadaan management representative yang harus ditunjuk secara resmi. Setiap orang, khususnya penanggung jawab dari setiap divisi/ departemen perusahaan memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015

4. Scope - Tidak ada pengecualian klausul 
  • Perubahan yang sangat menonjol dari klausul 1 (scope) ini adalah hilangnya klausul 1.2 tentang aplikasi di ISO 9001:2015. Artinya, semua persyaratan standar atau semua klausul di ISO 9001:2015 ini bersifat umum dan bisa diterapkan oleh organisasi/ perusahaan apapun, serta tidak memandang tipe dan ukuran organisasi/perusahaan atau bidang organisasi/ perusahaan tersebut.

5. Manual Mutu Tidak Wajib
  • Keberadaan manual mutu di ISO 9001:2015 ini tidak wajib, karena banyak pihak yang merasa manual mutu hanyalah dokumen formalitas dan tidak memberikan manfaat tambahan untuk perusahaan.
  • Apabila perusahaan Anda sudah membuat manual mutu bukan berarti dokumen tersebut harus dihapus, Anda masih boleh menggunakannya bila dibutuhkan.

6. Konteks Organisasi
  • Klausul 4 ISO 9001:2015 membahas mengenai konteks organisasi. Standar terbaru ini memperkenalkan persyaratan yang berkaitan dengan konteks organisasi, yaitu: 
    1. 4.1 Understanding the organization and its context  
    2. 4.2 Understanding the needs and expectation of interested parties
  • Kedua poin tersebut meminta perusahaan untuk memahami konteks dari organisasinya serta mengenali risiko yang dapat berdampak pada perencanaan sistem manajemen mutu dan mengenali peluang yang dapat digunakan untuk memperbaiki atau mengembangkan sistem manajemen mutu.
  • Klausul konteks organisasi juga menjelaskan, meski ISO 9001:2015 menyatakan bahwa seluruh klausul pada standar ini dapat diterapkan untuk seluruh jenis organisasi tanpa pengecualian. klausul 4.3 ISO 9001:2015 tetap mengizinkan adanya pengecualin pengecualian sepanjang ada justifikasi yang diterima.

7. Tidak ada istilah 6 prosedur wajib dan form wajib.
  • Dalam hal ini, ISO 9001:2015 memberi kebebasan kepada perusahaan dalam menentukan informasi terdokumentasi yang dibutuhkan, apakah akan menggunakan SOP/prosedur atau form saja. Tidak lagi dipersyaratkan harus dalam bentuk prosedur, seperti 6 prosedur wajib. Istilah "document" dan "record" pada ISO 9001:2015 diganti menjadi "documented information".  
    1. Pengendalian dokumen dan data
    2. Pengendalian catatan mutu
    3. Internal audit
    4. Pengendalian Produk tidak sesuai
    5. Tindakan perbaikan
    6. Tindakan pencegahan

8. Istilah produk dan jasa dibedakan
  • Dalam standar terbaru, tidak ada lagi istilah "product". ISO 9001:2015 menggantinya dengan istilah  "barang (goods)" dan "jasa (services)" untuk menghindari kerancuan. Sebab, kebanyakan pengguna ISO 9001 sering kali salah mengartikan "produk" sebagai barang yang berbentuk fisik saja, padahal produk juga termasuk jasa.

9. Penggantian beberapa istilah
  • Terdapat beberapa istilah yang diganti pada ISO 9001:2015, di antaranya:
    1. “Work Environment” diganti dengan “Environment for the Operation of the Process”
    2. “Supplier” diganti dengan “External Provider”
    3. “Purchased Product” diganti dengan “Externally Provided Products and Services”
  • Perubahan istilah tersebut berlaku tidak hanya untuk barang, tetapi juga jasa. Bila perusahaan Anda sudah menerapkan istilah lama pada ISO 9001:2008, istilah tersebut masih bisa digunakan sesuai kebutuhan.

10. Operation- Persyaratan Terkait Pengadaan Barang Dibahas Lebih Jelas
  • Semua hal yang berkaitan dengan operasional organisasi/ perusahaan dibahas pada klausul 8 ISO 9001:2015. Seluruh aspek operasional mulai dari perencanaan barang atau jasa, produksi atau penyediaan jasa, hubungan dengan pelanggan dan pihak ketiga penyimpanan dan perlindungan produk atau jasa hingga penanganan masalah selama proses operasional dibahas lebih jelas dibanding ISO 9001:2008

Perubahan kunci yang tidak perlu di lakukan Perusahaan


Dengan adanya versi terbaru dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 Tahun 2015 ini, ada beberapa hal yang tidak perlu dilakukan bagi perusahaan yang sebelumnya menggunakan ISO 9001 Tahun 2008 yaitu :
  1. Perusahaan tidak perlu menghapus wakil manajemennya. Meskipun tidak ada persyaratan wakil manajemen dalam ISO9001:2015, hal ini  tidak menghalangi organisasi untuk memilih mempertahankan peran ini jika  menginginkannya. Namun, ingatlah, bahwa beberapa tugas yang secara tradisional  diberikan kepada wakil manajemen oleh manajemen puncak akan, di  masa depan, perlu dilakukan langsung oleh manajemen puncak sendiri. Membuang Pedoman Mutu dan Prosedur Terdokumentasinya. Meskipun 9001:2015 tidak menetapkan persyaratan bahwa organisasi harus  memiliki Pedoman Mutu atau Prosedur Terdokumentasi, jika dokumentasi ini ada,  diperlukan dan berguna, maka tidak perlu menariknya.
  2. Perusahaan tidak perlu menomori ulang dokumentasi Sistem Manajemen Mutu yang ada agar sesuai dengan acuan  klausul yang baru. Meskipun organisasi  dapat memilih untuk melakukan penomoran ulang, ini tergantung masing-masing untuk menentukan apakah manfaat yang diperoleh dari penomoran ulang akan melebihi Upaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan perubahan. Namun, acuan perlu dilakukan agar sesuai dengan ISO 9001 : 2015, jika organisasi ingin menunjukkan kepatuhannya terhadap standar ini Merestrukturisasi sistem manajemennya agar sesuai dengan urutan  persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam ISO9001:2015. Asalkan semua persyaratan yang terdapat dalam standar terpenuhi,  sistem organisasi akan patuh.
  3. Perusahaan tidak perlu mengubah dokumentasi yang ada agar menggunakan istilah-istilah dan  definisi baru yang terdapat dalam ISO 9001:2015. Sekali lagi, organisasi bebas untuk melakukan penilaian apakah upaya ini akan  bermanfaat. Jika organisasi lebih nyaman menggunakan terminologinya sendiri, misalnya  "catatan" sebagai gantinya “informasi terdokumentasi", atau "pemasok" sebagai  gantinya “penyedia eksternal" maka ini sepenuhnya dapat diterima.

Untuk lebih memahami Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 Tahun 2015, silahkan dipelajari Materi ISO 9001 Tahun 2015 dibawah ini :


Perubahan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 Tahun 2015 menjadi lebih mudah dan terarah untuk diterapkan oleh perusahaan karena ada beberapa konteks organisasi yang dimiliki oleh Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 Tahun 2015 diantaranya adalah :
  • Tidak ada persyaratan dalam standar bahwa organisasi  harus mempertimbangkan pihak berkepentingan yang tidak  relevan.
  • Tidak ada persyaratan untuk membahas kebutuhan dan harapan tertentu dari pihak berkepentingan yang relevan  jika organisasi menganggap kebutuhan dan harapan  tersebut tidak relevan.
  • Organisasi dapat memutuskan untuk menerima beberapa  persyaratan tambahan untuk memenuhi pihak  berkepentingan

Read more

5/23/2018

Tes Psikologi - Psikotes Gambar Dengan Nilai IQ 183

Tes Psikologi atau Tes Psikotes yang akan dibahas kali ini adalah mengenai Cara mengerjakan Psikotes Gambar untuk mendapatkan nilai IQ 183, yang merupakan nilai IQ tertinggi. Psikotes gambar yang dalam bahasa psikologi disebut dengan nama Tes CFIT atau Culture Fair Intelligence Test yaitu tes psikologi untuk mengukur angka kecerdasan dan taraf kecerdasan seseorang. Kecerdasan biasa disebut IQ atau Intelegence Quotient yaitu ukuran kemampuan atau aspek intelegensi manusia dalam hal kecerdasan umum, sistematika berfikir, kekritisan berfikir, fleksibilitas berfikir, dan kemampuan analisa masalah. 



Soal Psikotes dalam hal ini psikotes gambar atau CFIT dibagi menjadi 4 subtes dengan jumlah soal psikotes yang berbeda-beda dan dengan waktu yang sangat singkat, yaitu :
  • Subtes 1 adalah untuk mengukur Sistematika Berfikir atau Kemampuan berpikir secara runtut untuk memahami masalah yang saling berkesinambungan
  • Subtes 2 adalah untuk mengukur Kekritisan Berpikir atau Kemampuan memahami hal-hal detail dan kritis untuk mengindentifikasi masalah
  • Subtes 3 adalah untuk mengukur Fleksibilitas Berpikir atau Kemampuan mencari solusi permasalahan
  • Subtes 4 adalah untuk mengukur Analisa Masalah atau Kemampuan melihat sumber permasalahan
  • Total dari keseluruhan subtes untuk mengukur Potensi Kecerdasan atau kemampuan dasar umum

Contoh Soal Psikotes


Contoh Soal Psikotes dibawah ini juga dilengkapi dengan kunci jawaban, sehingga dapat menjadi pedoman bagi siapa saja yang menginginkan lulus mengerjakan psikotes gambar atau CFIT dengan nilai sempurna yaitu IQ 183 dengan kategori taraf kecerdasan Jenius.

Subtes 1
Waktu: 3 menit
Jumlah: 12 soal
Instruksi:
Di bagian atas ada 4 buah kotak. Di bawahnya ada 6 kotak yang menjadi pilihan jawaban
Di kotak pertama ada panah ke bawah. Di kotak kedua, panah ke kiri. Di kotak ketiga, panah ke atas. Tapi di kotak keempat itu kosong. Pilihlah dari 6 kotak pilihan jawaban, mana pilihan yang tepat untuk mengisi kotak keempat. Lanjutkan dengan menjawab soal no 2 dan seterusnya dan kerjakan secepat-cepatnya.

Kunci Jawaban dari Contoh tes psikotes subtes 1 CFIT diatas adalah :

  1. B
  2. C
  3. B
  4. D
  5. E
  6. B
  7. D
  8. B
  9. F
  10. C
  11. B
  12. B

Subtes 2
Waktu: 4 menit
Jumlah: 14 soal
Instruksi:
Dari 5 gambar yang terdapat dalam kotak, pilihlah 2 gambar yang paling berbeda dari lainnya dan kerjakan secepat-cepatnya.

Kunci Jawaban dari Contoh tes psikotes subtes 2 CFIT diatas adalah :
  1. B & E
  2. A & E
  3. A & D
  4. C & E
  5. B & E
  6. A & D
  7. B & E
  8. B & E
  9. A & D
  10. B & D
  11. A & E
  12. C & D
  13. B & C
  14. A & B

Subtes 3 
Waktu: 3 menit
Jumlah: 13 soal
Instruksi:
Di dalam soal ini, ada 4 buah kotak. Setiap kotak ini memiliki pola-pola tertentu. Tugas Anda adalah mencari pola pada setiap kotak, kemudian tentukan jawaban yang paling tepat berdasarkan pola yang terbentuk dan kerjakan secepat-cepatnya.

Kunci Jawaban dari Contoh tes psikotes subtes 3 CFIT diatas adalah :
  1. E
  2. E
  3. E
  4. B
  5. C
  6. D
  7. E
  8. E
  9. A
  10. A
  11. F
  12. C
  13. C

Subtes 4
Waktu: 2,5 menit
Jumlah: 10 soal
Instruksi:
Di dalam setiap kotak soal, terdapat sebuah titik. Tugas anda adalah mencari titik dan mencari prinsip dari titik tersebut dan kerjakan secepat-cepatnya.

Kunci Jawaban dari Contoh tes psikotes subtes 4 CFIT diatas adalah :
  1. B
  2. A
  3. D
  4. D
  5. A
  6. B
  7. C
  8. D
  9. A
  10. D



Soal Tes Psikologi. Setelah selesai mengerjakan soal Psikotes gambar diatas dengan jawaban yang benar sesuai dengan kunci jawaban, maka akan keluar penilaian seperti format penilaian dibawah ini :

Read more